-
Pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata: “Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!”Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahawa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, haiwan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok.Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas. Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi iaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.”Kepada Nabi Musa as, ALLAH menurunkan wahyu-Nya yang isinya: “Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”Nabi Musa kembali berkata: “Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?” ALLAH berfirman: “Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!.” Menuruti apa yang diperintahkan oleh ALLAH, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: “Wahai seorang hamba yang derhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, kerana kamulah, hujan tidak diturunkan oleh ALLAH kepada kami semuanya!”Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang derhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahawa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: “Jika aku keluar dari rombongan ini, nescaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT.”Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah derhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini.”Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujan pun turun dengan lebatnya bagaikan hanya ditumpahkan saja dari atas langit. Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: “Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?” ALLAH berfirman: “Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu.” Nabi Musa berkata: “Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?”ALLAH berfirman: “Wahai Musa, dulu ketika dia derhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?
-
Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya,menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.
Kekhuatiran Para Malaikat.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu,mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:"Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih,bertahmid,melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman,menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna
.
Iblis Membangkang.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.
Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah." -
Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa pada suatu hari sedang Nabi Idris a.s. duduk menjahit bajunya, maka dengan tiba-tiba berdiri di hadapan pintu rumah Nabi Idris seorang lelaki yang tidak dikenali dan ditangannya terdapat sebiji telur. Lalu ia berkata: "Wahai Nabi Idris! Bolehkah Tuhan kamu memasukkan dunia ini ke dalam telur yang sedang aku pegang?" Apabila Nabi Idris mendengar kata-kata lelaki itu, tahulah ia bahawa yang berbicara dengannya itu adalah iblis.
Lalu Nabi Idris berkata kepadanya: "Datanglah dekat aku dan tanyalah apa yang hendak kamu ketahui." Setelah iblis menghampirinya maka Nabi Idris pun berkata: "Tuhanku boleh memasukkan dunia ini ke dalam apa saja, jangankan dalam telur yang kamu pengang itu, bahkan ia dapat memasukkan dunia ini ke dalam lubang jarum yang aku pegang."
Setelah menjawab soalan yang dikemukakan oleh iblis itu, Nabi Idris dengan pantas mencucuk mata iblis dengan jarum yang ada di tangannya. Alangkah terperanjatnya iblis dengan tindakan yang tidak diduga sama sekali. Lalu iblis pun lari meninggalkan Nabi Idris yang telah membutakan sebelah matanya. Iblis itu buta sebelah matanya sehingga tiba saat kebangkitan junjungan besar kita Nabi Muhammad s.a.w. -
Pada suatu hari Nabi Allah Sulaiman telah menerima wahyu daripada Allah supaya pergi ke tepi pantai untuk menyaksikan suatu benda yang ajaib yang akan ditunjukkan kepada Nabi Sulaiman. Setelah bersiap sedia, Nabi Sulaiman berangkat ke tepi pantai yang di nyatakan di dalam wahyu. Baginda diiringi oleh kaum jin, manusia dan binatang.
Setibanya di pantai, Nabi Sulaiman terus mengintai-ngintai untuk mencari sesuatu seperti yang dikatakan oleh Allah. Setelah lama mencari, baginda belum lagi menjumpai apa-apa. Kata salah seorang daripada mereka "Mungkin tersalah tempat". Tetapi baginda menjawab "Tidak, di sinilah tempatnya". Nabi Sulaiman mengarahkan Jin Ifrit supaya menyelam kedalam laut untuk meninjau apa-apa yang pelik atau ajaib. Jin Ifrit menyelam agak lama juga barulah ia kembali kepada Nabi Sulaiman dan memaklumkan bahawa dia tidak menjumpai apa-apa benda yang ajaib. Tanya Nabi Sulaiman "Apakah kamu menyelam sehingga dasar laut" Jawab Jin Ifrit "Tidak". Nabi Sulaiman pun mengarahkan Jin Ifrit yang kedua supaya menyelam sehingga ke dasar laut. Setelah puas menyelam dan mencari benda-benda yang di katakan oleh Nabi Sulaiman, Jin Ifrit yang kedua juga tidak menjumpai apa-apa yang ajaib dan ia melaporkan kepada Nabi Sulaiman.
Perdana Menterinya yang bernama Asif bin Barkhiya telah berbisik ke telinga Nabi Sulaiman dan memohon kebenaran untuk menolongnya. Setelah mendapat izin Nabi Sulaiman, dia membaca sesuatu dan terus menyelam ke dalam laut. Tidak lama kemudian Asif menjumpai sebuah kubah yang sangant cantik. Kubah tersebut mempunyai empat penjuru, setiap penjuru mempunyai pintu. Pintu pertama diperbuat daripada mutiara, pintu kedua diperbuat daripada zamrud berwarna merah, pintu ketiga diperbuat daripada jauhar dan pintu keempat diperbuat daripada zabarjad. Pintu-pintu tersebut terbuka luas, tetapi yang peliknya air tidak masuk kedalam kubah tersebut walaupun pintunya terbuka luas.
Dengan kuasa yang diberikah oleh Allah, Asif dapat membawa kubah tersebut naik ke darat dan diletakkan di hadapan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman melihat kubah tersebut dengan penuh takjub di atas kebesaran Allah. Baginda berangkat untuk melihat kubah tersebut, setelah menjenguk ke dalam di dapati ada seorang pemuda berada di dalamnya. Pemuda tersebut masih belum sedar walaupun kubahnya telah diangkat ke darat kerana asyik bermunajah kepada Allah. Nabi Sulaiman memberi salam kepada pemuda tersebut. Pemuda tersebut menyambut salam dengan perasaan terkejutnya apabila melihat orang ramai sedang berada disitu. Nabi Sulaiman memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu bahawa beliau adalah Nabi Allah Sulaiman. Pemuda itu bertanya "Dari manakan mereka ini dan bagaimana mereka datang?". Pemuda itu merasa hairan dan setelah menjenguk keluar dia mendapati bahawa kubahnya telah berada di darat. Nabi Sulaiman memberitahu pemuda itu bahawa mereka datang kerana diperintahkan oleh Allah untuk melihat keajaiban yang dikurniakan Allah kepadanya.
Setelah mendapat izin dari pemuda itu Nabi Sulaiman meninjau ke dalamnya untuk melihat benda yang ajaib yang dihiasi di dalamnya. Keindahan yang terdapat di dalam kubah itu sungguh menakjubkan. Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda tersebut bagaimana dia boleh berada di dalam kubah ini yang terletak di dasar laut. Pemuda tersebut menceritakan bahawa dia telah berkhidmat kepada kedua ibu bapanya selama 70 tahun. Bapanya seorang yang lumpuh manakala ibunya pula seorang yang buta. Suatu hari ketika ibunya hendak meninggal dunia, ibunya memanggilnya dan memaklumkan bahawa ibunya telah rela diatas khidmat yang diberikan olehnya. Ibunya berdoa kepada Allah supaya anaknya dipanjangkan umur dan sentiasa taat kepada Allah. Setelah ibunya meninggal dunia, tidak lama kemudian bapanya pula meninggal dunia. Sebelum bapanya meninggal dunia, bapanya juga telah memanggilnya dan memaklumkan bahawa dia juga telah rela diatas khidmat yang diberkan olehnya. Bapanya telah berdoa sebelum meninggal dunia supaya anaknya di letakkan di suatu tempat yang tidak dapat diganggu oleh syaitan.
Doa kedua dua orang tuanya telah dimakbulkan oleh Alllah. Pada sutau hari ketika pemuda tersebut bersiar-siar di tepi pantai ia terlihat sebuah kubah yang sedang terapung-apung di tepi pantai. Ketika pemuda tadi menghampiri kubah tersebut . Ada suara menyeru supaya pemuda itu masuk ke dalam kubah tersebut. Sebaik sahaja ia masuk kubah dan meninjau di dalamnya tiba-tiba ia bergerak dengan pantas dan tenggelam ke dasar laut. Tidak lama kemudian muncul satu lembaga seraya memperkenalkan bahawa dia adalah malaikat yang di utuskan Allah. Malaikat itu memaklumkan bahawa kubah itu adalah kurniaan Allah kerana khidmatnya kepada orang tuannya dan beliau boleh tinggal di dalamnya selama mana dia suka, segala makan dan minum akan dihidangkan pada bila-bila masa ia memerlukannya. Malaikat itu memaklumkan bahawa dia diperintahkah Allah untuk membawa kubah tersebut ke dasar laut. Semenjak dari itu pemuda tersebut terus bermunajah kepada Allah sehingga hari ini.
Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda itu "Berapa lamakah kamu berada di dalam kubah ini" Pemuda itu menjawab "Saya tidak menghitungnya tetapi ia mula memasukkinya semasa pemerintahan Nabi Allah Ibrahim a.s lagi". Nabi Sulaiman menghitung ". Ini bermakna kamu telah berada didalam kubah ini selama dua ribu empat ratus tahun". Nabi Sulaiman berkata "Rupa mu tidak berubah malah sentiada muda walaupun sudah dua ribu empat ratus tahun lamanya". Nabi Sulaiman bertanya pemuda itu samada dia mahu pulang bersamanya". Jawab pemuda tadi "Nikmat apa lagi yang harus aku pinta selain daripada nikmat yang dikurniakan oleh Allah kepada ku ini". Nabi Sulaiman bertanya"Adakah kamu ingin pulang ke tempat asal mu" Jawab pemuda itu "Ya, silalah hantar aku ke tempat asalku". Nasi Sulaiman pun memerintahkan Perdana Menterinya membawa kubah tersebut ketempat asalnya.
Setelah kubah tersebut diletakkan ketempat asal, Nabi Sulaiman berkata kepada kaumnya "Kamu semua telah melihat keajaiban yang dikurniakan oleh Allah. Lihatlah betapa besar balasan yang Allah berikan kepada orang yang taat kepada orang tuanya dan betapa siksanya orang yang menderhakan kepada kedua ibu bapanya". Nabi Sulaiman pun berangkat pulang ketempatnya dan bersyukur kepada Allah Taala kerana telah memberi kesempatan kepadanya untuk menyaksikan perkara yang ajaib. -
Keruntuhan Moral
Nabi Adam A.S. telah meninggalkan keturunannya dalam keadaan dalam keadaan sosial dan moral yang baik namun begitu akhirnya mereka mula melupakan ajaran Allah. Mereka mengambil jalan yang salah dan terlibat dalam rasuah dan kerosakan akhlak. Mereka menjadi kedekut, pengikut syaitan dan tamak haloba. Seluruh masyarakat berpecah-belah kepada beberapa bahagian. Keadaan negeri ini menyebabkan berlakunya penindasan dan ketidakadilan dalam negara.
Kedatangan Nabi Nuh A.S.
Ketika keadaan ini berlaku, Allah yang maha berkuasa berkehendakkan manusia kembali menjadi hamba yang taat kepada-Nya. Dia mengutuskan Nuh sebagai utusan-Nya untuk memulihkan semula masyarakat yang telah rosak akhlak yang tinggal di bahagian 'Iraq'. Mereka mempercayai Allah tetapi mereka juga menyukutukan-Nya dengan tuhan-tuhan ciptaan yang lain. Ahli-ahli agama yang mempercayai banyak tuhan ini mengawal sepenuhnya urusan negara. Para penduduk menawarkan diri untuk melakukan pengorbanan dengan nama tuhan-tuhan itu sebagai satu penghormatan. Mereka memperuntukkan sejumlah besar harta mereka untuk tujuan tersebut dan keadaan menjadi semakin teruk.
Nabi Nuh A.S. seperti juga nabi-nabi lain adalah seorang yang ikhlas, soleh, sabar dan boleh dipercayai. Baginda mempunyai keinginan dan keazaman yang kental untuk memulihkan umatnya. Malaikat Jibril telah menyampaikan kepada baginda ajaran daripada Allah dan diarahkan untuk memulihkan umatnya daripada pengaruh syaitan. Nabi Nuh tetap menyeru supaya beriman kepada Allah dan menunjukkan mereka jalan untuk menyembah Tuhan yang satu dan menasihati supaya tidak melakukan kejahatan.
"Sesungguhnya Kami telah mengutuskan Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-sekali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya" Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata", Nuh menjawab "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amant Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui " ". (Al-A'raaf, 7:59-62)
Sekali lagi dalam ayat Al-Quran ada menyatakan tentang amaran Nabi Nuh dengan mengumumkan:
"Sesungguhnya Kami telah mengutuskan Nuh kepada kaumnya peringatan sebelum dating kepadanya azab yang pedih", Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu iaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, necaya Allah akan mengampuni sebahagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu) sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui " (Nuh, 71: 1-4)
Nabi Nuh Ditentang
Kebanyakan penduduk tidak mempercayai Nabi Nuh. Mereka memperbodohkan baginda dan mencemuhnya sebagai orang gila. Mereka menutup telinga apabila disampaikan kepada mereka seruan Allah. Mereka tidak berganjak dari kejahilan mereka dan dengan sombongnya memandang hina nasihatnya supaya berbuat baik. Kaum tersebut sangat degil dan dipengaruhi oleh para ahli agama yang menyebabkan mereka langsung tidak menghiraukan seruan Allah dan menambahkan kebencian dalam diri mereka. Akhirnya Nabi Nuh A.S. telah menangis mengadu kepada Allah.
"Nuh berkata: "Ya Tuhan, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, nescaya mereka akan menyesatkan hamba-hambamu, dan mereka akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan"" (Nuh, 71: 26-28)
Persiapan Bahtera
Seterusnya Allah telah membalas doa Nabi Nuh A.S. dengan memerintahkan baginda membina sebuah bahtera. Nabi Nuh A.S. mengetahui bahawa Allah telah merancang menenggelamkan orang-orang yang jahil dan menolak arahan Allah. Oleh sebab itu, Nabi Nuh A.S. mula membina bahtera dan dibantu oleh para pengikutnya dari pagi hingga ke petang. Selepas bahtera telah separuh siap, orang-orang yang tidak beriman tersebut mengetawakan mereka dan mengatakan Nabi Nuh dan pengikutnya gila.
"Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu megejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)"" (Huud, 11: 38)
Bala Melanda
Apabila bahtera yang besar telah siap, langit menjadi mendung. Hujan mula turun dengan lebatnya. Sungai-sungai dilimpahi air. Air memenuhi merata tempat. Cahaya kilat dan guruh membuatkan semua penduduk berasa takut dan gentar kecuali Nabi Nuh dan para pengikutnya. Dalam Al-Quran ada menerangkan keadaan yang dasyat tersebut.
"Maka kami bukalah pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi jadikan bumi memancarkan mata air - mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan " (Al-Qamar, 54: 11-12)
Nabi Nuh A.S. mengajak keluarga dan para pengikutnya untuk menaiki sampan. Mereka berebut-rebut datang ke bahtera. Terdapat tempat yang istimewa untuk semua makhluk termasuk manusia dan binatang. Bahtera belayar di tengah gelombang yang menggunung sementara arus meningkat laju dan memenuhi rumah-rumah melalui tingkap dan pintu. Banyak rumah yang runtuh menyembah bumi. Setelah mereka cuba berenang sedaya upaya untuk menyelamatkan diri. Anak lelaki Nabi Nuh A.S. telah terpisah daripada baginda kerana tidak mahu beriman kepada Allah. Nabi Nuh A.S. berdoa kepada Allah dan berkata.
"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang sebenar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya" Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk dalam keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-ku sesuatu yang kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)Nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan " " (Huud, 11: 45-46)
Sementara itu, air naik semakin tinggi. Seluruh kawasan mengalami banjir dan orang-orang yang tidak beriman tenggelam. Nabi Nuh A. S. dan pengikutnya selamat dalam bahtera dan terapung tanpa digugat oleh gelombang besar. Akhirnya hujan berhenti, air mula surut dan langit kembali cerah.
Nabi Nuh A. S. Dan Pengikutnya Selamat
Nabi Nuh A.S. dan para pengikutnya selamat sampai di suatu tempat yang sesuai. Mereka telah membina rumah-rumah dan bekerja keras membina hidup baru. Generasi seterusnya yang dilahirkan oleh orang-orang yang selamat ini termasuk dalam manusia yang takutkan Allah. Mereka menyembah Allah yang satu dan berkelakuan seperti yang diperintahkan oleh Allah. Nabi Nuh A.S. hidup kira-kira selama 950 tahun. Selepas peristiwa yang dasyat itu, ada di kalangan generasi yang terselamat kadangkala melakukan dosa dan lalai dalam perlakuan.
-
Selepas kematian Nabi Sulaiman A.S., kerajaan telah mengalami perpecahan. Pengaruh syaitan telah berleluasa. Manusia yang beragama diejek-ejek. Undang-undang Somaria telah membunuh kebanyakan golongan yang mengetahui dan mengikuti akidah yang sebenar. Pengaruh kejahatan menjadi semakin buruk dan Allah telah menghantar Nabi Ilyas A.S. untuk memulihkan manusia pada zaman pemerintahan Raja Ahab dari Israil. Baginda berusaha berusaha bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia daripada mempercayai banyak tuhan dan melarang mereka menyembah Tyrian Bal.
Baginda juga menasihati manusia untuk menyembah Allah dan mengelakkan diri daripada melakukan kejahatan. Apabila usahanya tidak dihiraukan dan tidak membuahkan hasil, baginda tiba-tiba muncul sebeum raja dan tukang tiliknya memberitahu yang arus deras dan kebuluran akan melanda negeri tersebut. Baginda juga memberitahu yang Tyrian Bal tidak mempunyai kuasa untuk menahan bencana tersebut. Para penduduk tidak mengendahkan amarannya dan tidak mengubah kepercayaan mereka. Kenabian Nabi Ilyas akhirnya terbukti benar dan seluruh negeri dilanda banjir besar dan rakyat mengalami kebuluran. Selepas dua tahun, Nabi Ilyas memohon Allah mengurniakan belas kasihan dan keampunan-Nya kepada penduduk yang kebuluran itu. Mereka telah mengakui kekuasaan Allah dan berasa sangat menyesal.
Sejurus selepas arus deras berhenti dan Allah telah menarik balik sumpahannya, Allah telah menyuruhnya memanggil al-Yas'a menggantikannya. Baginda melaksanakan perintah Allah dengan penuh ketaatan dan hilang secara misteri. Terdapat satu petikan dalam ayat al-Quran yang bermaksud:
" Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik" (Shaad, 28: 48) .
-
Ilyasa adalah rasul dari kalangan Bani Israel dari garis keturunan yang sama dengan Musa, Harun serta Ilyas. Nama Ilyasa disebut dalam kisah Ilyas, saat rasul itu dikejar-kejar kaumnya dan bersembunyi di rumah Ilyasa. Maka besar kemungkinan Ilyasa juga tinggal di seputar lembah sungai Yordania. Ketika Ilyas bersembunyi di rumahnya, Ilyasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit. Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya. Setelah sembuh, Ilyasa pun menjadi sahabat Ilyas yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan kebaikan. Ilyasa melanjutkan tugas tersebut begitu Ilyas meninggal. Ilyasa kemudian mendapati bahwa manusia ternyata begitu mudah kembali ke jalan sesat. Itu terjadi tak lama setelah Ilyas wafat. Padahal masyarakat lembah sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Ilyas agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa tak lelah menyeru ke jalan kebaikan. Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Ilyasa, dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang luar biasa
-
Nabi Dawud a.s. berasal dari Bani Israil, keturunan Yahudza bin Nabi Yaakub a.s. Nama baginda telah disebut sebanyak 16 kali dalam al-Quran. Baginda adalah nabi dan raja yang mempunyai kerajaan yang diperturunkan kepada puteranya Sulaiman a.s. Mereka dikurniakan kenabian dan kurniaan kebaikan dunia dan akhirat.
"...dan Allah telah memberikan kerajaan dan hikmah kepada Dawud serta mengajarkan apa-apa yang dikehendaki-Nya" (Al-Baqarah, 2: 251)
Nama sebenar baginda ialah Dawud bin Isya bin 'Uwaid. Baginda juga adalah seorang rasul yang dikurniakan dengan kitab samawi iaitu Zabur. Allah telah berfirman yang bermaksud:
"Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud" (An-nisa', 4: 163)
Nabi Dawud bersama-sama Thalut
Thalut dilantik menjadi raja kepada Bani Israel kerana mempunyai tubuh yang perkasa dan ilmu yang luas. Namun begitu, penduduk Bani Israel merasakan bahawa beliau tidak layak untuk memegang kuasa tersebut.
Nabi Dawud telah diundang ke istana dan tinggal bersama Thalut kerana raja tersebut begitu tertarik dengan bakat seni yang ada pada baginda. Baginda akan selalu bersama Thalut di istana dan berulang alik menemui bapa baginda untuk menolongnya mengembala kambing.
Nabi Dawud a.s. Menentang Jalut
Pada suatu ketika, terjadi satu peperangan antara rakyat Israel dan Palestin. Tentera Palestin telah dipimpin oleh Jalut, pahlawan yang gagah perkasa tetapi sangat kejam. Maka Thalut pun memilih pasukan yang kuat di kalangan tenteranya untuk menentang Jalut. Nabi Dawud a.s. telah turut serta dalam peperangan tersebut.
Semasa perang berlaku, Jalut telah meminta untuk diadakan pertarungan satu lawan satu. Dia dengan angkuhnya mara ke hadapan dan mencabar musuhnya di pihak Nabi Dawud. Lalu Nabi Dawud a.s. menyambut cabaran tersebut namun diejek kembali oleh Jalut yang merasakan Nabi Dawud a.s. tidak setanding dengannya. Baginda juga dinasihati oleh Thalut supaya tidak bertarung dengan pahlawan yang berpengalaman tersebut. Namun Nabi Dawud a.s. tetap dengan keputusan baginda maka bertarunglah keduanya. Baginda berdoa sebelum bertarung yang bermaksud:
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran ke atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (Al-Baqarah, 2: 250)
Dengan izin Allah Nabi Dawud a.s. telah berjaya mengalahkan Jalut walaupun bertubuh kecil berbanding Jalut. Tentera Palestin akhirnya kalah dalam pertempuran dan lari bertempiaran.
Nabi Dawud a.s. menjadi Raja
Nabi Dawud a.s. menjadi terkenal di kalangan Bani Israel selepas kejadian tersebut. Baginda telah mendapat anugerah daripada Thalut dan dikahwinkan dengan puteri baginda dan dilantik sebagai ketua Komander angkatan tentera. Namun tidak lama selepas itu, Thalut berasa iri hati dengan pengaruh Nabi Dawud a.s. Salah seorang anak lelaki Thalut mempunyai pekerti yang baik telah memaklumkan baginda tentang perkara tersebut.
Selepas kematian Thalut, urusan pemerintahan dikuasai oleh Nabi Dawud a.s. dan seterusnya menjadi raja kepada Bani Israel. Baginda telah mentadbir negara dengan berkesan dan menakluki banyak kawasan. Para penduduk mendapat kemakmuran semasa pemerintahan baginda yang berhati mulia, adil dan bertakwa. Rakyatnya juga menyembah Tuhan yang satu yang mengikut pimpinan yang sebenar.
Penurunan Kitab Zabur
Allah telah menurunkan kitab Zabur kepada Nabi Dawud a.s. Kitab ini mengandungi ajaran untuk memimpin kaum Bani Israel. Allah telah berfirman yang bermaksud:
"...Dan kami berikan Zabur kepada Dawud" (An-Nisaa', 4: 163)
Rakyat akan terpegun apabila mendengar Nabi Dawud a.s. membaca ayat-ayat daripada Zabur dengan suara yang amat merdu. Semua kan mengelilinginya termasuk binatang-bintang di muka bumi ini.
Selain itu, Allah juga telah mengurniakan keistimewaan untuk menundukkan gunung ganang supaya bertasbih bersama-samanya dengan bahasa yang tidak difahami oleh manusia biasa. Pengetahuan dan kelebihan itu juga dapat dipraktikkan terhadap burung-burung untuk turut serta bersamanya.
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dawud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud", " (Saba', 34: 10)
"Sesungguhnya Kami tundukkan gunung-gunung kepadanya, semuanya tasbih pada petang-petang dan pagi-pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung yang dikumpulkan, masing-masing banyak kembali kepada Allah." (Shaad, 38: 18-19)
Nabi Dawud a.s. sebagai tukang besi
Nabi Dawud a.s. adalah seorang tukang besi yang mahir. Baginda berupaya melembutkan besi yang keras dan menghasilkan pelbagai bentuk barangan daripadanya. Baginda melakukannya tanpa memakai api atau sebarang alat. Besi yang dilembutkan ada yang dijadikan baju besi yang sangat elok buatannya. Allah berfirman yang bermaksud:
"Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)." (Al-Anbiya, 21: 80)
"...dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba', 34: 10)
Nabi Dawud a.s. adalah seorang pemimpin yang begitu adil dan menggunakan masa sehariannya dengan sempurna. Baginda memperuntukkan hari-hari khusus untuk beribadat, bertugas sebagai hakim, memberi pengajaran kepada kaumnya dan untuk kepentingan peribadi.
Kematian Nabi Dawud a.s.
Nabi Dawud a.s.meninggal dunia pada usia 70 tahun dan dikebumikan di Jurusalem. -
Nabi Sulaiman a.s. adalah anak bongsu kepada Nabi Dawud a.s. Baginda dilahirkan di Jurusalem. Ibu baginda bernama Saba. Oleh kerana dia adalah anak lelaki yang berketerampilan, Nabi Dawud a.s. melantik baginda sebagai pewaris dan diangkat menaiki takhta selepas kematian bapa baginda. Baginda adalah seorang yang bijaksana, penguasa yang adil dan mempunyai pegangan kepercayaan yang utuh.
Nabi Sulaiman a.s. Membuat Keputusan.
Nabi Sulaiman dianugerahkan dengan kebijaksanaan membuat keputusan dalam kes yang rumit. Pada suatu hari berlaku pertikaian antara dua lelaki. Mereka telah mengutarakannya kepada Nabi Dawud a.s.
Salah seorangnya berkata: "Tuan, kambingnya telah menceroboh tanamanku. Tanamanku telah musnah dan menyebabkan kerugian. Kerugian ini mesti dibayar pampasan oleh pemilik kambing."
Pengembala kambing sangat miskin dan tiada berharta kecuali kambing-kambing itu. Kerosakan yang berlaku melebihi harga kambingnya. Nabi Dawud a.s. telah memerintahkan lelaki tersebut supaya memberikan kambingnya kepada pemilik tanah sebagai membayar gantirugi. Nabi Sulaiman a.s. yang ketika itu masih muda remaja telah mendengar pengadilan tersebut lalu dia bercakap dengan penuh hormat.
"Bapaku, tidak dinafikan, keputusanmu adalah betul tetapi adalah lebih sesuai sekiranya semua kambing digunakan untuk susu dan bulunya sahaja. Pengembala kambing patut diarah untuk berkhidmat kepada pemilik tanah sehingga keadaan ladang kembali sempurna. Apabila selesai semuanya, semua kambing mesti dipulangkan semula kepada pengembala tersebut."
Semua yang hadir menyaksikan pengadilan itu bersetuju dengan pendapat Sulaiman. Nabi Dawud a.s. sangat menghargai keputusan yang adil tersebut dan memerintahkan kedua pihak melaksanakan seperti yang disarankan itu. Allah berfirman dalam al-Quran yang bermaksud:
"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-duanya memberikan keputusan mengenai tanaman, kerana tanaman itu dirosakkan oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan ilmu kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu."
(Al-Anbiya', 21: 78-79)
Kuasa Menundukkan Angin
Nabi Sulaiman a.s. mewarisi sifat murni bapanya. Baginda dianugerahkan dengan anugerah yang istimewa. Angin menjadi suruhan kepada baginda dan baginda dengan mudah dapat melakukan perjalanan jauh dengan sekelip mata sahaja. Allah telah menerangkan dalam ayat beberapa ayat al-Quran yang bermaksud:
"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana sahaja yang dikehendakinya" (Shaad, 38: 36)
"Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Anbiyaa', 21: 81)
Memahami Bahasa Burung
Nabi Sulaiman a.s. dianugerahkan dengan ilmu untuk memahami bahasa burung, serangga dan binatang-binatang lain. Baginda juga mampu bercakap dengan mereka sebagaimana yang telah dinyatakan dalam al-Quran yang bermaksud:
"Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud dan dia berkata: "Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata"" (An-Naml, 27: 16)
Nabi Sulaiman a.s. dan jin
Nabi Sulaiman a.s. juga berkuasa ke atas jin dan syaitan. Baginda menggunakan mereka untuk berkhidmat dengan baginda. Baginda memberi arahan tanpa rasa dendam atau iri hati. Mereka akan dihukum sekiranya mereka ingkar akan suruhan baginda. Allah telah berfirman yang bermaksud:
"Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu petang sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin di antara mereka dari perintah Kami. Kami rasakan kepadanya azab neraka yang menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih" (Saba', 34: 12-13)
"Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tenteranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)" (An-Naml, 27: 17)
Telah dinyatakan bahawa Nabi Sulaiman a.s. menakluk jin-jin untuk menolong baginda membina rumah suci Baitul Muqaddis (Masjid Aqsa)
Nabi Yang Menyayangi Kuda
Nabi Sulaiman a.s. sangat menyayangi kuda. Kuda-kuda adalah aset penting dalam ketenteraan negara. Apabila kuda-kuda tersebut pulang daripada sesuatu misi, baginda akan memberikan rawatan yang rapi ke atas leher dan buku lali yang tercedera. Baginda akan melaksanakannya sebagai tanda terima kasih terhadap kesetiaan dan ketangkasan kuda-kuda tersebut.
Kisah Permaisuri Saba
Kawasan yang meliputi negara Yaman sekarang pernah diperintah oleh seorang permaisuri bernama Ratu Balqis. Kawasan itu dikenali sebagai Saba dan merupakan sebuah kerajaan yang makmur. Ratu Balqis telah mentadbir dengan begitu baik sehingga rakyatnya dapat mencapai tamadun yang tinggi pada waktu itu. Pada suatu hari burung Hud telah memaklumkan kepada Nabi Sulaiman a.s. tentang kemakmuran kerajaan Saba. Ia berkata:
"Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang Mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan" (An-Naml, 27: 22-25)
Setelah mendengar berita tersebut, Nabi Sulaiman a.s. seorang nabi dan raja telah menulis surat kepada ratu tersebut yang disampaikan melalui burung hud. Baginda memberi amaran kepada Ratu Balqis supaya jangan sombong dengan kuasanya dan menasihatinya untuk beriman dengan Allah dan menuruti segala perintah-Nya. Ratu Balqis telah membaca surat tersebut dan berasa sangat keliru. Sebagai seorang wanita yang berwaspada, dia telah memanggil para pembesar yang lain untuk meminta pandangan mereka. Sesetengah pembesar yang angkuh menyarankan supaya menentang Nabi Sulaiman a.s. manakala yang lain menyerahkan kepada ratu untuk membuat keputusan.
"Berkatalah ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majlis(ku)". Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan"" (An-Naml, 27: 29-33)
Ratu itu tidak mahu melibatkan negaranya dengan peperangan kerana akhirnya akan menyebabkan kemusnahan sahaja. Baginda memikirkan satu rancangan dan menyediakan hadiah yang berharga untuk Nabi Sulaiman a.s. Ratu Balqis merancang untuk mewujudkan hubungan baik dan mencari jalan perdamaian melalui pemberian tersebut. Namun kekayaan tiada bermakna bagi Nabi Sulaiman a.s. Baginda sangat kecewa dengan pemberian tersebut dan mengembalikannya bersama dengan kata-kata yang tajam kepada utusan ratu tersebut.
"Aku tidak inginkan kekayaan. Bagiku pemberian yang mahal ini adalah tidak penting. Aku harap ratu dan para pengikutnya menyembah Allah dan mengikut kepercayaan agama yang benar. Aku akan menyerang negara kamu sekiranya ratu itu enggan berbuat demikian"
Tidak beberapa lama kemudian, Nabi Sulaiman a.s. dan tenteranya bergerak melalui lembah semut untuk menyerang kerajaan Saba. Di lembah tersebut, baginda terdengar perbualan semut-semut yang bergegas melarikan diri ke lubang untuk mengelakkan dipijak oleh tentera-tentera Nabi Sulaiman a.s. Baginda berasa kasihan dan dan mendapat pengajaran untuk menyelamatkan nyawa dan kemuliaan makhluk yang merendah diri. Baginda merasakan bahawa ratu dan rakyatnya hanya seperti makhluk yang merendah diri. Mereka tidak sepatutnya diserang dan dibunuh untuk berkuasa di muka bumi. Telah diceritakan dalam al-Quran yang bermaksud:
"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari, maka dia tersenyum dengan tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh."" (An-Naml, 27: 18-19)
Baginda tidak meneruskan serangan kerana baginda suka pembunuhan beramai-ramai yang disebabkan oleh pertelingkahan antara kedua angkatan tentera. Matlamatnya ialah untuk memulihkan Ratu Balqis dan rakyat negara Saba. Baginda ingin membawa mereka ke jalan yang benar dan berharap dapat menyelamatkan mereka daripada godaan syaitan.
Apabila Ratu Balqis mendengar khabar angin tentang penyerangan oleh Nabi Sulaiman a.s., dia pun pergi menemui baginda bagi menyelesaikan masalah tersebut. Apabila kedatangan ratu itu diketahui oleh Nabi Sulaiman a.s., maka diperintahkan jin-jin untuk membawa singgahsana ratu dengan sekelip mata. Perintahnya ditunaikan dengan segera dan apabila Ratu Balqis sampai di tempat Nabi Sulaiman a.s. , dia ditanya mengenai singgahsana tersebut. Ratu Balqis mengenalinya dan berkata:
" Aku sudah sedia maklum akan kuasa dan keagungan tuanku. Aku datang kepadamu sebagai seorang hamba yang patuh"
Ayat al-Quran yang bermaksud:
"Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgahsanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri." Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), kerana sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang kafir" (An-Naml, 27: 42-43)
Ratu Balqis telah dibawa ke dalam istana yang yang sangat indah. Lantainya diperbuat daripada kaca yang bergemerlapan yang menampakkannya seperti air yang mengalir. Ratu Balqis mengangkat kainnya apabila melalui lantai tersebut apabila berjalan di atas lantai tersebut. Kemudian dia diberitahu bahawa ia bukanlah air sebenarnya.
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam" (An-Naml, 27: 44)
Ratu Balqis akhirnya berasa menyesal dan menerima agama Allah. Nabi Sulaiman a.s. memerintah selama 30 tahun. Baginda meninggal pada usia 89 tahun. Selepas kematian baginda, putera baginda Rohoboam menjadi raja. Rohoboamhidup dalam kemewahan mengikut keinginannya. Rakyat telah bangun memberontak lalu menjatuhkannya .Tidak lama selepas itu warisan pemerintahan Nabi Dawud a.s. pun berakhir. -
Yahya adalah anak kepada Nabi Zakaria A.S. Kelahirannya merupakan keajaiban kerana baginda dilahirkan oleh seorang wanita yang telah lama didapati mandul dan bapa yang sudah tua. Dalam keadaan yang hampir berputus asa, Nabi Zakaria A.S. yang sudah berumur, berdoa kepada Allah s.w.t. supaya mengurniakan seorang anak lelaki yang boleh menjadi pewaris, penyampai ajaran agama Allah. Doanya telah dimakbulkan serta merta.
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi khabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (Maryam, 19: 7)
Nabi Yahya A.S. telah diberi tugas yang mulia iaitu memimpin manusia ke jalan kebenaran. Baginda mengajak orang lain untuk percaya dengan sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Baginda hidup dalam kelompok masyarakat yang suka merendah-rendahkan orang lain. Baginda seorang yang tidak sombong dan selalu menghabiskan sebahagian besar kehidupannya di dalam hutan. Baginda juga seorang yang suci dan begitu mentaati kedua orang tuanya. Firman Allah yang bermaksud:
"Hai Yahya, ambillah Al-kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak dan rasa belas kasihan yang mendalam dan sisi kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali" (Maryam, 19: 12-15)
Nabi Yahya A.S. berpindah ke padang pasir Judea. Baginda berpakaian jubah yang diperbuat daripada bulu unta. Baginda hanya makan makanan ringkas dan madu liar. Khutbah baginda meninggalkan kesan yang sangat hebat dan ramai orang datang berduyun untuk mendengar mesej yang disampaikan. Seluruh penduduk di kawasan Jordan telah memeluk agama Allah dan mengikut ajaran baginda.
Nabi Yahya A.S. adalah nabi yang terdahulu daripada Nabi Isa A.S. Keduanya adalah saudara sepupu yang sezaman. Baginda saat taat melaksanakan misinya sehingga ke akhir hayat. Seorang pemertintah Roman,Herod Antipas adalah pemerintah Galilee. Dia menjalinkan hubungan sulit dengan Herodias, isteri kepada saudara lelakinya Herod Philip. Nabi Yahya A.S. telah menasihatinya supaya meninggalkan perbuatan tersebut namun tidak dihiraukan oleh raja tersebut.
Suatu hari, Herod Antipas telah mengadakan satu majlis keramaian. Herodias memberi kebenaran kepada anaknya, Salome untuk menari dalam majlis tersebut. Raja tersebut amat tertarik dengan persembahan gadis tersebut. Maka dia memberitahu bahawa dia akan menunaikan apa sahaja permintaan Salome. Dengan segera, Salome meminta dibawakan kepadanya kepala Nabi Yahya A.S. Herod terpaksa menunaikan janjinya kerana tidak dapat memikirkan alternatif lain. Jadi, Nabi Yahya A.S. dipancung atas hasutan ibu Salome, gadis yang dicintainya. Makam baginda ditempatkan di Masjid Umayyah di Syria.
-
Nabi Ayyub A.S. adalah salah seorang daripada keturunan Nabi Ibrahim A.S. dan juga anak saudara Nabi Ya'qub A.S. Baginda diutuskan untuk memulihkan kaum yang tinggal di padang pasir yang terletak di timur laut Palestin.
Apabila Nabi Ayyub A.S. dipilih menjadi nabi, baginda mula mengajar para penduduk tentang agama Allah. Baginda menasihati mereka untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Seperti nabi-nabi yang lain, sedikit sahaja yang mahu mendengar ajaran baginda pada mulanya, tetapi akhirnya jumlahnya makin bertambah.
Nabi Ayyub A.S. Adalah Seorang Hartawan
Nabi Ayyub A.S. adalah seorang yang kaya dan sangat beriman kepada Allah. Baginda mempunyai ladang yang luas, harta yang bernilai dan binatang ternakan yang banyak. Semua ini tidak sedikitpun membuatkan baginda lupa diri. Kekayaan baginda adalah kurniaan daripada Allah S.W.T.
Nabi Ayyub A.S. Menunjukkan Kesabaran
Nabi Ayyub A.S. adalah seorang yang besifat merendah diri dan bertakwa kepada Allah. Baginda adalah seorang yang sangat penyabar. Baginda menderita dengan pelbagai dugaan tetapi tidak sedikit pun baginda mengeluh tentang nasib yang menimpanya. Suatu hari, ladang baginda yang besar telah diserang oleh sekumpulan perompak. Mereka membunuh ramai pekerja-pekerja dan membawa lari sebahagian besar binatang ternakan. Nabi Ayyub A.S. tidak berasa sedih atas kerugian tersebut tetapi bersyukur kepada Allah. Tidak berapa lama selepas kejadian itu, bumbung rumah baginda pula runtuh dan ramai ahli keluarganya terlibat dalam kejadian tersebut. Nabi Ayyub A.S. sangat terkejut tetapi baginda tetap bersabar dengan berpegang pada iman yang kukuh. Baginda tidak menangis mahupun goyah iman kepada Allah. Baginda menganggap bahawa kesenangan dan anak-anak adalah ganjaran daripada Allah. Sekiranya Allah mengambil semula pemberian-Nya, tiada gunanya menangisi kehilangan tersebut.
Selepas beberapa tahun kemudian, Nabi Ayyub A.S. menderita penyakit kulit pula. Bahagian-bahagian tubuhnya diliputi dengan kudis yang menjijikkan. Baginda mempunyai ulser yang buruk rupanya pada muka dan tangannya. Kudisnya dipenuhi ulat. Diceritakan bahawa baginda mengutip ulat-ulat yang jatuh dari bengkak yang bernanah dan memuji Allah atas penciptaan ulat-ulat tersebut. Semua kejadian ini telah menyebabkan kawan-kawannya menganggap ia adalah akibat dosa yang baginda lakukan. Mereka jijik memandang baginda dan meninggalkan baginda kecuali isteri yang setia, Rahima.
Namun begitu Rahima juga menjadi semakin letih hidup bersama dengan baginda. Dia berdoa supaya suaminya meninggal dunia daripada terpaksa menahan kesakitan yang berlarutan. Dia mencela suaminya yang ikhlas bertahan dengan kesakitan dialami. Semasa Nabi Ayyub A.S. dalam keadaan yang menyedihkan, baginda berdoa:
"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang" (Al-Anbiyya, 21: 83)
Allah telah memakbulkan doanya. Firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud:
"Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai satu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah"
(Al-Anbiyya, 21: 84)
Nabi Ayyub A.S. Sembuh dan Kembali Mewah
Lalu Allah mengurniakan rahmat-Nya kepada baginda. Baginda di arahkan untuk menghentakkan kaki ke bumi. Baginda menurutinya dan dengan izin Allah, keluar mata air dari tempat tersebut. Baginda lantas mandi dengan air tersebut dan hilanglah kesakitan yang dialami. Selepas itu, baginda dikembalikan dengan kekayaan dahulu. Baginda melutut dan bersyukur yang amat sangat dengan anugerah yang diberi. Baginda tidak lupa dengan bantuan, belas kasihan dan kasih Allah terhadap baginda.
Nabi Ayyub A.S. adalah salah seorang nabi yang terkenal. Baginda menjadi teladan bahawa sesiapa yang sabar menahan dugaan dan ujian dalam apa jua keadaan, akhirnya akan mendapat ganjaran yang tinggi. Allah telah menerangkan dalam Quran:
"Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun'. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (A Baqarah, 2: 155-157)
-
Isa adalah keturunan Daud dan Sulaiman. Dialah rasul dari kalangan Bani Israel yang pengaruhnya menyebar hingga di luar kalangan Yahudi. Tahun kelahirannya hingga kini dijadikan dasar perhitungan kalender Masehi. Adapun tanggal kelahirannya tidak pernah dinyatakan secara jelas. Yang pasti bukan tanggal 25 Desember yang sekarang diperingati sebagai Hari Natal, karena penentuan tanggal itu lebih dikaitkan dengan mitologi serta perhitungan astronomi menyangkut perubahan posisi bumi terhadap matahari.
Kisah Isa diawali dari peristiwa kedatangan malaikat menemui Maryam yang tinggal di kamarnya di Baitul Maqdis. Maryam menyangka malaikat itu adalah laki-laki yang hendak menggodanya. Tapi sang malaikat menyatakan dirinya hanya diutus Allah untuk menyampaikan kabar bahwa Maryam akan punya putra. Sebuah kabar yang sempat tak dipercayai Maryam karena dirinya seorang perempuan baik-baik dan tak pernah berhubungan dengan laki-laki.
Atas kehendak Allah, Maryam pun hamil. Baru menjelang abad 21, ilmu pengetahuan dapat menjelaskan bahwa secara teoritis manusia dapat mempunyai anak tanpa harus ada pertemuan antara sperma dengan sel telur, yakni dengan teknik kloning. Sekarang pun ilmu pengetahuan belum mampu menyingkap sepenuhnya fenomena kehamilan Maryam tersebut. Pada masa itu, kehamilan Maryam merupakan kontroversi besar.
Dengan menanggung beban hujatan masyarakatnya, Maryam meninggalkan Baitul Maqdis. Kalangan Nasrani meyakini Maryam melahirkan Isa di tempat pengasingannya di Baitullahim (Betlehem). Quran hanya menjelaskan saat Maryam berlindung di bawah pohon korma. Allah memerintahkan Maryam untuk menjejakkan kaki untuk memperoleh air minum, serta menggoyang pohon itu untuk mendapatkan makanan.
Kelahiran Isa mengundang tudingan keras pada Maryam. Mereka menganggap Maryam telah mencemarkan nama baik keluarganya karena mempunyai anak tanpa suami. Sekali lagi mukjizat terjadi. Isa yang masih bayi tiba-tiba berbicara menjelaskan mukjizat Allah tersebut. Isa juga memperlihatkan sejumlah mukjizat lagi ketika dewasa. Diantaranya adalah ketika ia membentuk seekor burung dari tanah liat dan burung itu tiba-tiba hidup. Ia -atas izin Allah-menghidupkan orang mati, menyembuhkan kebutaan seseorang yang dideritanya sejak lahir, serta mendatangkan makanan yang semula tak ada.
Dengan berbagai mukjizat itu, Isa segera memperoleh pengikut yang banyak. Hal demikian mencemaskan kaum elit di wilayah Palestina tersebut, baik terhadap Romawi yang berkuasa maupun kalangan pendeta Yahudi. Militer saat itu segera memburu Isa dengan bantuan Yudas, seorang pengikut Isa yang berkhianat. Rumah persembunyian Isa diketahui. Isa pun digrebek. Di sinilah perbedaan pendapat kalangan Nasrani dan Islam mulai terjadi.
Kalangan Nasrani meyakini Isa tertangkap dan dihukum salib. Penyaliban itu dianggap sebagai simbol pengorbanan Isa demi menebus dosa umat manusia. Sedangkan Quran menjelaskan bahwa yang ditangkap dan kemudian disalib bukanlah Isa melainkan orang yang wajahnya serupa Isa. Banyak kalangan menunjuk ucapan orang yang hendak dihukum salib "Eli, Eli lama sabakhtani (Tuhan..... ) sebagai bukti bahwa yang disalib tersebut bukanlah Isa. Mereka bahkan meyakini yang tersalib adalah Yudas.
Tentang keberadaan Isa kemudian, para ahli tafsir meyakini bahwa Isa "diangkat Allah" ke akhirat. Sedangkan Jamaah Ahmadiyah berpendapat bahwa Isa lolos dari kepungan tersebut, lalu menyamar sebagai orang biasa, dan wafat secara wajar. -
Zakaria adalah keturunan Sulaiman. Ia dan istrinya, Isya, membaktikan diri untuk menjaga Baitul Maqdis -rumah ibadah peninggalan Sulaiman di Yerusalem. Ia terus menyeru kaum kerabatnya, orang-orang Yahudi, yang telah meninggalkan ajaran para nabi terdahulu untuk kembali ke ajaran yang benar. Namun ajakannya tak banyak diikuti kaumnya sampai Zakaria berusia lanjut.
Hingga saat itu, Zakaria belum punya anak yang sangat ia dambakan. Ia kemudian mengangkat Maryam, anak seorang salih bernama Imran. Imran adalah kakak Isya, dengan demikian Maryam juga keponakan istri Zakaria. Imran dibunuh oleh orang Yahudi lainnya. Maryam yang masih bocah pun diperebutkan banyak keluarga untuk dipungut sebagai anak. Zakaria berhasil mendapatkan Maryam setelah memenangkan undian.
Oleh Zakaria, Maryam dibangunkan kamar di Baitul Maqdis. Di sanalah Maryam tinggal dan bermunajat kepada Allah. Kegiatan sehari-hari Maryam adalah membersihkan rumah Allah tersebut. Suatu hari, Zakaria terkejut mendapati buah-buahan di luar musimnya berada di kamar Maryam. Maryam menyatakan pada Zakaria bahwa buah-buahan itu berasal dari Allah.
Zakaria terus berdoa agar dikaruniai keturunan. Allah mengabulkan doa tersebut, dan mengabarkan akan memberi Zakaria seorang anak. Zakaria sempat terkejut. Bagaimana mungkin ia dan istrinya yang sudah sangat tua dapat dikaruniai anak. Ketika itu diperkirakan Zakaria telah berusia lebih dari 100 tahun. Akhirnya keluarga Zakaria memang dikarunia keturunan yang akan melanjutkan tugas dakwahnya, yakni Yahya
-
Semasa umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka'abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.
Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa'ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa'ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.
Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad
Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.
Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.
Datuk baginda, Abdul Mutallib amat menyayangi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat dia dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk" (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)
Abdul Mutallib Wafat
Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan berpengaruh dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.
Muhammad diasuh oleh Abu Talib
Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih tugas bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang mampu berbanding saudaranya yang lain, namun dia mempunyai perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.
Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah dapat melihat tanda-tanda kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke daerah Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan dia tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair terkenal dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.
Baginda juga diberi tugas sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu baginda jauh dari segala pemikiran manusia nafsu manusia duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu "Al-Amin".
Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melaksanakan tugasnya dengan penuh ikhlas dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu dia meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Muhammad menerima lamarannya lalu berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.
Penurunan Wahyu Pertama
Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira' dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Al-'Alaq, 96: 1)
Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar lalu diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang kejadian yang telah berlaku.
Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.
Dakwah Secara Terang-terangan
Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan ajaran Islam secara lebih meluas.
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr, 15:94)
Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras ajaran yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, dia selalu melindungi anak saudaranya itu namun dia sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan tentangan yang hebat dari kaum Quraisy itu. Lalu dia bertanya tentang rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:
"Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan seruan ini, aku tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa kerananya"
Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan ejekan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang menerima tentangan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut seperti Amar dan Bilal bin Rabah yang menerima siksaan yang berat.
Kewafatan Khadijah dan Abu Talib
Rasulullah amat sedih melihat tingkahlaku manusia ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akibat yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu menyebarkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di saat baginda dirundung kesedihan.
Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya sejak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.
Penghijrahan Ke Madinah
Tekanan daripada orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas pemergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.
Negara Islam Madinah
Negara Islam yang baru dibina di Madinah mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.
Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.
Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.
Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya mendapat kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji bersama-sama dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah menyampaikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:
"Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah."
Kewafatan Nabi Muhammad s.a.w
Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melaksanakan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa manusia ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, berilmu dan berkebolehan. Rasulullah adalah contoh terbaik bagi semua manusia sepanjang zaman. -
Zulkifli A.S. adalah salah seorang nabi Allah. Di dalam al-Quran ada disebutkan tentang baginda dalam dua petikan ayat yang bermaksud:
"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang soleh" (Al-Anbiyaa', 21: 85-86)
"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik" (Shaad, 38: 48)
Baginda yang dikenali sebagai Ezekiel dalam Injil ini telah dibawa ke Babylon selepas kemusnahan Jurusalem. Baginda dirantai dan dipenjarakan. Baginda menghadapi segala kepayahan dengan sabar dan mencela perbuatan mungkar Bani Israel.
Ibn Jarir telah meriwayatkan satu peristiwa yang memberi cahaya kepada hidup baginda. Apabila Al-Yasa A.S. meningkat tua, dan ingin memberikan tugas untuk memimpin bangsa Israel kepada yang sesuai. Baginda mengumumkan: Hanya orang tersebut akan dipertimbangkan untuk menggantikan baginda dan yang berpuasa pada siang hari, mengingati Allah pada malam hari dan menahan diri daripada sifat marah. Salah seorang daripada mereka berdiri dan berkata: Aku akan patuh kepada syarat-syarat tersebut. Baginda mengulangi syarat-syarat itu semula sebanyak tiga kali dan lelaki yang sama berjanji dengan bersungguh-sungguh akan memenuhi syarat-syarat tersebut. Maka dia dilantik untuk membawa tugas tersebut.
Selepas beberapa lama, dia telah diberi ujian. Suatu hari, syaitan dalam jelmaan lelaki tua mengetuk pintu rumahnya. Lelaki tua itu dibenarkan masuk dan membuat aduan tentang kekejaman orang ramai terhadap dirinya. Dia menyuruh lelaki tersebut datang semula pada waktu petang dan berjanji akan membetulkan kesilapan tersebut. Lelaki tua itu berjanji tetapi tidak kembali semula pada waktu yang ditetapkan.
Keesokan harinya lelaki tua itu datang semula dan mengadu seperti hari sebelumnya. Maka disuruhnya lelaki tersebut datang pada sebelah petang. Lelaki itu berjanji dengan bersungguh-sungguh untuk datang semula tetapi tetap memungkirinya. Pada hari yang ketiga, lelaki tua itu datang semula mengetuk pintu rumahnya sekali lagi.Pada kali ini, pintu tidak lagi dibuka. Maka syaitan tersebut menyelinap ke dalam bilik dan menunjukkan dirinya kepada lelaki itu. Dia sangat terkejut melihat jelmaan syaitan tersebut lalu menyoalnya. Lalu dia mendapati lelaki tua itu adalah syaitan yang cuba membuatnya marah namun syaitan itu gagal. Akhirnya lelaki tersebut dikenali sebagai Zulkifli kerana berjaya menunaikan janjinya dengan Nabi Al-Yasa' A.S. Dia berjaya menahan marahnya walaupun dikacau oleh syaitan tadi. Tidak lama selepas itu, dia angkat sebagai nabi.
Baginda memerintahkan kaum Israel untuk berperang dengan sesiapa yang melakukan kerosakan di bumi dan menentang agama Allah. Para pengikutnya enggan menurut perintah kerana mereka takut mati. Sebagai balasan, kebanyakan mereka akhirnya ditimpa dengan malapetaka. Sejenis wabak telah menular dan menyebabkan kematian yang menyedihkan. Mereka lantas lari meninggalkan tempat tersebut untuk menyelamatkan diri. Tiada siapa yang tinggal untuk mengebumikan mayat penduduk yang mati. Mayat-mayat membusuk di bawah sinaran cahaya matahari. Nabi Zulkifli A.S. keluar dari tempat persembunyian selepas tujuh hari. Baginda diselubungi kesedihan melihat keadaan yang dasyat yang dialami pengikutnya dan merayu : "Ya Allah! Engkau telah membinasakan pengikutku. Kasihanilah mereka dan kurniakanlah kehidupan baru kepada mereka". Allah telah memakbulkan doa nabi, maka diberikan kembali kehidupan kepada mereka.
"Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur" (Al-Baqarah, 2: 56)
Selepas itu, Nabi Zulkifli A.S. meninggalkan pengikutnya dan berhijrah ke Babylon dan wafat di sana.
-
Nabi Musa A.S. dan keluarganya menetap di Mesir. Mereka dikenali sebagai Israel. Akhirnya bilangan mereka semakin bertambah dan mencapai kekuasaan yang kukuh. Kaum Israel tidak bergaul dengan penduduk asal yang lain. Mereka tinggal terasing dan dianggap sebagai bangsa asing di Mesir.
Tindakan Kejam Firaun Terhadap Kaum Israel
Pada waktu itu, Mesir diperintah oleh Raja Firaun. Dia sangat sombong, zalim dan berkuasa. Dia rasa dia adalah Tuhan. Rakyat hidup dalam kesedihan semasa pemerintahannya. Mereka dikerah untuk bekerja seperti hamba. Mereka dirantai dan dipukul dengan cemeti jika membantah. Kaum Israel dipandang rendah dalam masyarakat dan hidup dalam keadaan melarat serta miskin. Sesetengah daripada mereka hidup lemah dan mati kebuluran. Apabila Firaun mengetahui jumlah penduduk Israel bertambah, dia berasa sangat risau lalu diapun membincangkan topik itu dengan para penasihatnya. Mereka mengambil keputusan untuk menghapuskan kaum tersebut kerana tidak mahu mereka berkuasa di Mesir. Maka mereka merancang untuk menindas dan menganiayai kaum Israel dengan pelbagai cara. Firaun memerintahkan supaya anak-anak lelaki yang dilahirkan oleh keluarga bangsa Israel, mestilah dibunuh. Tindakan yang zalim oleh Firaun ini diterangkan dalam ayat al-Quran:
"Kami membacakan kepadamu sebahagian daripada kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenangnya di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan daripada mereka, menyembelih anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerosakan. Dan Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)." (Al-Qasas, 28: 3-5)
Apabila rakyat mendengar arahan yang kejam itu, mereka semua berasa sangat terkejut. Para tentera mula mematuhi arahan raja. Apabila mereka mendengar sahaja terdapat kelahiran anak lelaki, mereka akan meragut dari tangan ibunya. Mereka tidak menghiraukan tangisan ibu tersebut dan membuang bayi tersebut ke dalam sungai tanpa rasa kasihan. Perbuatan itu amat tidak berperikemanusiaan tetapi tidak ada seorang pun membantah perintah Firaun kerana semua rakyat takutkannya. Banyak bayi yang tak bersalah dibunuh dan diratapi oleh ahli keluarga yang malang. Ibu Musa telah mengandungkan Harun A.S. dalam tahun sebelum arahan pembunuhan dibuat. Jadi dia telah melahirkan bayi tersebut dengan selamat.
Nabi Musa A.S. Dihanyutkan Dalam Sungai
Ibu Nabi Musa A.S. adalah wanita berketurunan Israel. Pada zaman perintah bunuh dibuat, ibunya telah melahirkan baginda secara rahsia. Baginda sangat comel semasa baginda masih bayi. Ibunya berasa sangat risau, suatu hari nanti tentera Firaun pasti akan membuang bayinya ke dalam sungai. Allah telah mengilhamkan kepadanya supaya dia bersabar dan tidak takut. Dia dimaklumkan bahawa anaknya akan menjadi seorang nabi. Bayi tersebut diberi nama Musa. Dia menjaganya selama beberapa bulan sehingga dia berasa tidak dapat menyembunyikannya lagi. Lalu Allah telah memberi petunjuk kepadanya.
"Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khuatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah (pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang)dari para rasul."" (Al-Qasas, 28: 7)
Petunjuk yang sama diterangkan dalam ayat berikut yang bermaksud:
"yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku."" (Thaaha, 20: 38-39)
Apabila Nabi Musa A.S. mencapai umur beberapa bulan, bagindapun dihanyutkan dalam sebuah peti melalui sungai Nil semasa hari masih gelap. Kakaknya berusaha mengikut peti tersebut menyusur sungai yang tenang manakala ibunya pulang dalam keadaan menangis kerana tidak dapat menahan kesedihan. Kakaknya Nabi Musa A.S. bersembunyi dari satu tempat ke satu tempat sepanjang sungai. Peti tersebut akhirnya sampai di satu kawasan tebing sungai yang dijadikan tempat mencuci pakaian oleh beberapa orang penduduk. Mereka mencapai peti yang terapung itu lantas membukanya. Mereka amat terkejut apabila mendapati seorang bayi di dalamnya.
Nabi Musa A.S. Membesar Di rumah Firaun
Penduduk yang menjumpai kotak tersebut membawanya kepada Firaun dan keluarganya. Tanpa disedari, kakak kepada Firaun turut bersama-sama mereka. Isteri Firaun telah sangat menyukai bayi yang ditemui dan bercadang untuk sebagai anak angkatnya.
"Dan berkatalah isteri Firaun:"(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyedari ." (Al-Qasas, 28: 9)
Nabi Musa A.S. mula berasa lapar dan menangis. Bayi tersebut cuba disusukan oleh beberapa orang wanita tetapi gagal. Kakak nabi yang berada di situ berkata: "Bolehkan saya membawa seorang wanita yang dapat menyusukannya". Lalu dia diarahkan untuk berbuat demikian dengan segera. Dia berlari ke rumah dan menerangkan kepada ibunya tentang kejadian yang telah berlaku. Dia meminta ibunya pergi ke rumah Firaun bersama-samanya. Lalu sampailah mereka di sana dan Nabi Musa A.S. dapat minum dengan sepuas-puasnya.
Isteri Nabi Musa A.S. meminta supaya ibunya dapat tinggal di sana untuk menjaga bayi yang baru dijumpai tersebut.
"Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahawa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Al-Qasas, 28: 13)
Nabi Musa A.S. membesar seperti seorang putera. Baginda mempelajari tentang cara hidup Firaun yang tidak baik dan kezalimannya ke atas bangsa Israel. Walaupun pada zahirnya baginda hidup dalam serba kemewahan, namun baginda begitu tersiksa jiwanya hidup bersama Firaun.
Seorang lelaki Mesir dibunuh Firaun
Pada suatu hari, baginda melihat seorang lelaki Israel bergaduh dengan seorang suruhan raja. Baginda muncul dalam kejadian itu dan cuba meleraikan pergaduhan mereka. Namun begitu, lelaki suruhan raja yang berketurunan Mesir itu, tidak mahu berganjak walaupun diminta beberapa kali. Lalu baginda memukul belakangnya dengan kayu. Lelaki tersebut berasa pening dan jatuh ke bumi. Nabi Musa A.S. dan sahabat-sahabatnya mara ke hadapan untuk menyokongnya namun lelaki itu sudah lemah seperti kain buruk. Tidak lama selepas itu, dia pun meninggal dunia.
Nabi Musa A.S. Berasa Menyesal
Nabi Musa A.S. berasa sangat sedih dan menyesal atas kejadian yang berlaku. Ia adalah satu kemalangan bukan atas niat untuk membunuh. Satu pukulan kayu adalah tidak memadai untuk menyebabkan kematian seseorang. Baginda menjadi sangat bingung. Baginda rasa perbuatannya adalah perbuatan syaitan yang hendak mengelirukan manusia. Baginda sedar akan kesalahannya dan berdoa supaya Allah melindunginya.
"…Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiayai diriku sendiri kerana itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang." (Al-Qasas, 28: 15-16)
Penghijrahan Nabi Musa A.S. dan Perkahwinannya
Tidak lama selepas itu, berita pembunuhan itu telah tersebar luas. Para penduduk merancang untuk membunuh Nabi Musa A.S. Baginda berasa takut dan diberi petunjuk supaya berhijrah ke tempat lain. Firman Allah dalam ayat al-Quran yang bermaksud:
"Dan datanglah seorang lelaki dari hujung kota bergegas-gegas seraya berkata:
"Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu"" (Al-Qasas, 28: 20)
Nabi Musa A.S. mengemaskan pakaiannya dan segera meninggalkan rumah Firaun pada waktu malam semasa semua orang sedang nyenyak tidur. Akhirnya baginda sampai di Madian selepas melalui perjalanan yang sangat memenatkan. Baginda berhenti berehat di suatu tempat mengambil air.
Nabi Musa A.S. melihat dua orang gadis menunggu giliran dari jauh. Kambing mereka berdiri di sebelah perigi untuk diberi minum. Nabi Musa A.S. merasakan bahawa kedua orang gadis tersebut memerlukan pertolongan. Walaupun baginda sangat letih dan lapar namun baginda ingin juga membantu mereka. Baginda menemui mereka dan bertanya sekiranya mereka memerlukan bantuan. Mereka berasa rendah diri dan tersipu-sipu malu. Mereka telah memberitahu bahawa mereka sedang menunggu binatang ternakan mereka. Mereka bimbang kambing-kambing tersebut akan lari jauh. Jadi Nabi Musa A.S. pun membawa kambing-kambing itu ke mata air untuk meminum air. Kedua gadis itu berasa terhutang budi dengan pertolongan baginda. Mereka mengambil kambing-kambing mereka semula dan membawanya pulang ke rumah. Nabi Musa A.S. pergi berehat semula. Baginda mula berasa sangat sedih dan berdoa kepada Allah meminta pertolongan-Nya. Sementara itu, dua orang gadis itu datang kepada baginda dan berkata:
"Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku"" (Al-Qasas, 28:24)
Nabi Musa A.S. pulang ke rumah bersama-sama mereka. Apabila mereka memasuki rumah, baginda memperkenalkan dirinya dengan penuh adab. Sejurus selepas makan malam bersama ahli keluarga tersebut, baginda dipelawa tinggal dengan mereka. Masa berlalu dengan baik. Pada suatu hari, ketua keluarga tersebut berkata:
"Berkatalah dia (Syuaib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahawa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu InsyaAllah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik." Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan."" (Al-Qasas, 28: 27-28)
Berdasarkan persetujuan yang telah di buat, Nabi Musa A.S. mengahwini salah seorang daripada anak perempuan keluarga tersebut. Baginda perlu menjaga ladang dan kambing-kambing dengan sebaiknya. Nabi Musa A.S. telah berjauhan dengan keluarganya selama beberapa tahun. Baginda merindui saudara-saudara baginda dan bagindapun memulakan perjalanan dari Madian dan ditemani oleh keluarganya.
Seruan Kenabian kepada Nabi Musa A.S.
Suatu hari, Nabi Musa A.S. merentasi padang pasir dan akhirnya sampai ke sebuah gunung bernama Tur. Baginda terpandang satu cahaya yang terang dari jauh dan baginda menyangkakan ia adalah satu kawasan unggun api yang boleh memanaskan badan. Tiba-tiba terdengar satu suara dari sebelah kanan lembah. Ucapannya berbunyi:
"Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku". (Thaaha, 20: 12-14)
Nabi Musa A.S. berasa keliru dan takut. Cahaya yang kelihatan seperti api itu, bukanlah api yang sebenarnya tetapi ia adalah cahaya kemuliaan Allah. Saat itu adalah saat Nabi Musa A.S. diberi penghormatan tertinggi dalam hidupnya.
Beberapa Mukjizat Nabi Musa A.S.
Allah telah memerintahkan Nabi Musa A.S. untuk melemparkan tongkat di tangan baginda ke tanah. Baginda pun menurut perintah tersebut dan alangkah terkejutnya baginda apabila melihat tongkat tersebut bertukar menjadi ular yang panjang lagi menakutkan. Baginda menyangkakan yang ular itu akan mematuk baginda tetapi Allah telah memberi petunjuk kepada baginda supaya jangan gentar dan disuruh pula menangkap ular tersebut. Apabila baginda menyentuh sahaja ular tersebut, ia bertukar semula menjadi kayu. Baginda amat terpegun melihat kejadian yang berlaku di hadapan matanya.
Seketika selepas itu, Allah memerintahkan Nabi Musa A.S. untuk meletakkan tangannya di bawah ketiak baginda. Apabila baginda berbuat demikian dan mengeluarkan semula tangan baginda, maka memancarlah cahaya putih daripada tangan baginda. Apabila dimasukkan semula tangan di bawah ketiak dan mengeluarkan tangan baginda semula, ia berubah menjadi seperti sediakala.
Allah Yang Maha Kuasa memberikan mukjizat-mukjizat tersebut kepada Nabi Musa A.S. supaya baginda berasa lega dan lebih yakin dengan kewujudan Allah dan kekuasaannya. Baginda akan mendapat faedah daripada mukjizat-mukjizat tersebut pada masa akan datang.
Nabi Musa A.S. menetap di Mesir Semula
Allah memerintahkan Nabi Musa A.S. pergi ke Mesir untuk menyelamatkan kaum Israel daripada Firaun dan memulihkan kaumnya yang telah mengalami keruntuhan akhlak. Nabi Musa A.S. tidak mahir dalam berdebat. Baginda sentiasa tersekat lidahnya untuk bersuara dengan fasih. Baginda meminta kebenaran daripada Allah untuk membawa saudara baginda, Nabi Harun A.S. bersamanya kerana baginda adalah seorang yang fasih berdebat. Permohonan baginda segera ditunaikan.
"Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebahagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi" (Maryam, 19:53)
Nabi Musa A.S. Berdebat Dengan Firaun
Nabi Musa A.S. menetap di Mesir bersama-sama dengan keluarganya. Mereka pergi menemui Firaun untuk berdebat dengannya. Mereka menyampaikan mesej daripada Allah tetapi dianggap satu jenaka oleh Firaun. Namun Nabi Musa A.S. tetap tidak berputus asa dan terus menyeru. Raja dan rakyatnya tidak yakin dengan baginda dan akhirnya dalam keadaan terdesak, baginda berkata:
"Wahai Tuanku, mahukah aku tunjukkan kepadamu bahawa seruanku adalah benar." Firaun dengan senyuman mengejek tidak percaya di wajahnya. Lalu Nabi Musa A.S. melemparkan tongkat baginda ke tanah dan serta merta ia bertukar menjadi ular. Orang ramai berasa amat takut. Apabila ditangkap semula ular tersebut, ia menjadi tongkat semula. Semua orang sangat terpegun. Kemudian baginda meletakkan pula tangan di bawah ketiak baginda. Apabila baginda mengeluarkannya semula, tangan baginda menjadi bersinar dengan terang.
"Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata." (Asy-Syu'ara 26: 32)
Nabi Musa A.S. Bertanding Dengan Ahli Sihir
Ketua di istana berkata yang Nabi Musa A.S. adalah amat mempesonakan. Dia mahu mengubah tanggapan rakyat. Firaun sangat risau dan bimbang jika terdapat sebilangan penduduk mengikuti ajaran Nabi Musa A.S. Oleh sebab itu dia telah mengadakan satu pertandingan antara Nabi Musa A.S. dengan para ahli sihir dari serata pelosok negeri untuk menandingi Nabi Musa A.S. Dia menjanjikan anugerah kepada sesiapa yang memenangi pertandingan tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, orang ramai mula berkumpul untukmenyaksikan satu pertandingan yang menarik. Semua orang tidak sabar-sabar untuk melihat persembahan yang para ahli sihir dan mukjizat Nabi Musa A.S. Pada awalnya, ahli-ahli sihir melemparkan tongkat mereka lalu ia kelihatan seperti ular dari jauh. Para penonton amat terkejut dan menghargai persembahan yang menakjubkan itu. Tidak lama selepas itu, Nabi Musa A.S. menggunakan tongkat baginda untuk menunjukkan mukjizat baginda. Ia menjadi seekor ular besar yang sangat lapar, lantas memakan ular-ular yang dijelmakan oleh ahli-ahli sihir yang lain. Semua pemerhati menjadi terpegun dan ahli-ahli sihir mula mempercayai Nabi Musa A.S. dan berkata:
"Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun." (Al-A'raf, 7: 121-122)
Megenangkan peristiwa-peristiwa dalam negeri, Firaun menjadi sangat bimbang. Dia menjadi sangat marah kerana orang-orangnya telah mula mengikuti ajaran Nabi Musa A.S. Dia mengancam mereka dengan akibat yang dasyat. Dia berkata:
"demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik. Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib semuanya".
(Al-A'raf, 7: 124)
Penindasan Terhadap Nabi Musa A.S. Dan Pengikutnya
Firaun dan pengikutnya mula menindas pengikut-pengikut Nabi Musa A.S. Kaum Israel tetap bersabar dan mula beribadat di rumah mereka serta sentiasa berdoa kepada Allah. Mereka berkata:
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami mendapat fitnah (cubaan) dari kaum yang aniaya" (Yunus, 10: 85)
Apabila kaum Israel dalam keadaan amat tertekan dan menderita, Allah memerintahkan Nabi Musa A.S. dan para pengikut baginda meninggalkan kawasan tersebut dan berjanji akan menyelamatkan mereka. Maka mereka pun mengikuti perintah tersebut dan meninggalkan kawasan tersebut secara senyap.
Nabi Musa A.S. Meninggalkan Mesir
Semasa hari gelap, satu kumpulan kaum Israel meninggalkan Mesir. Mereka mengambil langkah berjaga-jaga untuk memastikan mereka terlepas daripada pengawasan orang-orang Firaun. Mereka bergerak dengan pantas dan yakin bahawa mereka akan diselamatkan oleh Allah. Keesokan harinya, kawasan penduduk Israel didapati lengang. Apabila Firaun mendapat tahu kehilangan mereka, dia menjadi amat marah dan menghantar bala tenteranya untuk mengejar mereka. Dia mengarahkan mereka dibawa pulang semula. Sampainya Nabi Musa A.S. dan para pengikut baginda di tepi pantai, mereka terdengar bunyi tapak kaki kuda. Lalu mereka menjadi sangat takut dan merasakan yang mereka akan ditangkap dan dihukum oleh musuh-musuh tersebut.
Laut Terbelah Dan Firaun Tenggelam
Semasa Nabi Musa A.S. dan para pengikutnya dikejar, Allah telah mewahyukan kepada Nabi Musa A.S.
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar".
(Asy-Syu'ara, 26:63)
Air laut melambung tinggi. Dasar laut menjadi kering. Ia adalah mukjizat yang amat menakjubkan. Mereka seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka. Dalam keadaan terdesak, mereka meluru ke hadapan dan Firaun juga mengejar mereka dari belakang. Namun begitu, Firaun dan para pengikutnya telah ditenggelami air laut yang bercantum dari sebelah kiri dan kanan. Terdapat ayat al-Quran yang berkaitan dengan kejadian tersebut:
"Maka Firaun dengan bala tenteranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka" (Thaaha, 20: 90-92)
Jasad Firaun sehingga kini masih elok bersemadi di Muzium Mesir sebagai tanda peringatan kepada manusia yang derhaka.
Apabila Nabi Musa A.S. dan seribu pengikutnya terselamat daripada Firaun. Mereka rasa amat bersyukur kepada Allah. Mereka telah menyaksikan mukjizat yang menakjubkan dan mereka sekarang hidup bebas mengikut ajaran Allah.
Nabi Musa A.S. Menerima Arahan
Allah telah memerintahkan Nabi Musa A.S. untuk pergi ke sebuah gunung untuk bertapa. Baginda berada di sana selama 40 hari. Semasa tempoh tersebut, Allah telah mewahyukan ilmu keagamaan yang banyak kepada baginda dan dikurniakan kitab yang mengandungi sepuluh perintah. Suatu hari Nabi Musa A.S. berkata:
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."" (Al-A'raaf, 7: 143)
Pada hari yang ditetapkan, baginda menemui pengikutnya dengan wahyu yang diterima.
Kaum Israel Menyembah Anak Lembu
Nabi Musa A.S. berasa sangat sedih apabila mengetahui sebilangan kaum baginda telah mula menyembah lembu bukannya Allah, Tuhan yang satu. Apabila saudara baginda, Nabi Harun A.S. menasihati mereka supaya kembali kepada Allah tetapi langsung tidak dihiraukan oleh mereka.
Kadangkala mereka menyiksa baginda Nabi Musa A.S. yang cuba dengan sedaya upaya untuk bangun kembali di tengah-tengah kaum Israel. Sesetengah mereka kembali ke jalan yang benar tetapi kebanyakan mereka tetap juga menyembah lembu. Nabi Musa A.S. berkata kepada kaumnya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina"
(Al-Baqarah, 2:67)
Kebanyakan mereka melakukannya dengan teragak-agak tetapi yang lainnya menolak. Nabi Musa A.S. tetap menyeru kepada kaumnya tentang mesej terbaru dari Tuhan.
Mukjizat Yang Lain
Tibalah satu musim kemarau. Keadaan ini menyebabkan kekurangan air dan buah-buahan serta makanan. Para penduduk mula mati kelaparan. Nabi Musa A.S. berdoa kepada Allah dan Allah menurunkan mereka bahan makanan tetapi tidak terdapat air di kawasan tersebut. Mereka menemui Nabi Musa A.S. untuk meminta pertolongan. Baginda memohon keajaiban daripada Allah maka baginda diarahkan untuk memukul tebing yang tinggi dengan tongkatnya. Nabi Musa A.S. melakukannya sambil berkata: Dengan Nama Tuhan, Allah yang Maha Kuasa. Maka terbitlah air dari tebing tersebut.
Terdapat 12 tempat pada tebing tersebut yang mengeluarkan air yang sejuk. Orang ramai terpegun dengan kejadian yang menakjubkan itu. Ayat dalam al-Quran yang bermaksud:
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerosakan" (Al-Baqarah, 2: 60)
Kaum Israel terdiri daripada 12 cabang dari keturunan Nabi Ya'qub A.S. Jadi, setiap cabang keturunan tersebut datang untuk minum dari setiap mata air tersebut. Mereka minum dengan tenang tanpa berebut-rebut di mata air masing-masing.
Kaum Israel Mencapai Kemenangan dan Kemewahan
Selepas tinggal di gurun untuk satu tempoh masa, Nabi Musa A.S. merancang untuk berhijrah ke tanah suci Palestin Nabi Musa A.S. menghantar 12 orang lelaki untuk meninjau tempat tersebut. Selepas beberapa hari, mereka kembali dan memaklumkan bahawa di sana terdapat pepohon menghijau dan ladang yang subur. Kawasan itu juga mempunyai bekalan air yang cukup. Berita ini membuatkan semua orang ingin berhijrah ke sana. Mereka juga diberitahu yang pemilik tanah tersebut kuat dan berani. Mereka juga mempunyai tentera yang kebal. Maka mustahil bagi mereka untuk menakluki tanah tersebut tanpa berperang. Kaum Israel menjadi sangat takut kerana mereka tidak mempunyai kekuatan dari segi ketenteraan. Nabi Musa A.S. bersama kumpulan kecil kaum Israel mahu pergi menentang orang-orang Palestin namun kebanyakan daripada mereka menolak. Sebahagiannya berkata: "Pergilah kamu dengan Tuhanmu melawan mereka. Kami akan berada di sini dan menunggu"
Selepas beberapa tahun, bilangan mereka bertambah. Akhirnya mereka dapat membina satu pasukan tentera dan cuba menakluki tanah kaya Palestin. Akhirnya mereka berjaya menjadi pemerintah bumi Palestin dan Allah mengurniakan kepada mereka kesenangan hidup di bumi tersebut.












